WEBINAR PASCA KAMPUS

Webinar pasca kampus merupakan salah satu program kerja dari Direktorat Keilmuan dan Keprofesian yang dilaksanakan dalam rangka memberikan informasi serta membekali mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam mempersiapkan dunia pasca kampus. Kegiatan ini mengusung tema Jejak Sarjana Kesehatan Masyarakat: Eksplorasi Karier di Puskesmas” dan diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Cloud Meetings pada hari Sabtu, 25 Januari 2025, pukul 08.00–10.30 WIB.

Kegiatan ini menargetkan partisipasi sebanyak 50 mahasiswa, namun antusiasme yang tinggi dari mahasiswa kesehatan masyarakat di berbagai institusi membuat jumlah peserta meningkat menjadi 190 orang. Hal ini mencerminkan tingginya mahasiswa untuk mempersiapkan dunia pasca kampus salah satunya yaitu dengan eksplorasi karier di puskesmas.

Webinar ini dibawakan oleh Nurul Hidayat, S.KM, beliau sebagai promosi kesehatan dan ilmu perilaku di Puskesmas Tambak 1, yang memaparkan materi secara sistematis dan aplikatif. Pokok pembahasan meliputi:

  1. Gambaran umum, peran dan fungsi Puskesmas dalam sistem kesehatan nasional;
  2. Gambaran umum, tugas dan fungsi serta jenjang karier tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku;
  3. Kompetensi yang dibutuhkan (hard skilss dan soft skills) sebagai tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku;
  4. Tantangan yang dihadapi sebagai tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku;
  5. Persiapan dalam merencanakan karier di Puskesmas

Webinar “Jejak Sarjana Kesehatan Masyarakat: Eksplorasi Karier di Puskesmas” menghadirkan wawasan mendalam tentang dunia kerja di Puskesmas. Peserta mempelajari peran dan fungsi Puskesmas dalam sistem kesehatan nasional, berbagai jenjang karier yang tersedia, serta keterampilan yang dibutuhkan—baik hard skills maupun soft skills. Tak hanya itu, webinar ini juga membahas tantangan di lapangan serta strategi merencanakan karier secara lebih matang.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lulusan Kesehatan Masyarakat semakin siap dan percaya diri dalam membangun karier di dunia kesehatan, khususnya di Puskesmas, sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

Penulis:

Ilma Lutfia Agustina (Universitas Jenderal Soedirman)

Kegiatan Badan Khusus Pemerhati Remaja dan Anak

RUANG DISKUSI REMAJA DAN ANAK

Deskripsi Kegiatan

    Ruang Diskusi Remaja dan Anak merupakan program kerja internal dari Badan Khusus Pemerhati Remaja dan Anak ISMKMI Nasional. Program ini hanya dilaksanakan oleh anggota internal BKPRA Nasional. Penanggungjawab program Ruang Diskusi Remaja dan Anak yaitu Kak Shinta Nur Azizah. Tujuan program Ruang Diskusi Remaja dan Anak antara lain : 

    1. Memberikan ruang pada anak dan remaja agar dapat menyuarakan dan menuangkan ide dan gagasan pada topik yang dibahas.
    2. Memberikan informasi dan edukasi yang lebih efektif mengenai isu remaja dan anak dalam rangka upaya promotif dan reventif secara online.
    3. Menyajikan informasi dan edukasi mengenai topik terkini yang dikemas dalam media promosi sederhana dan menarik
    4. Menumbuhkan minat baca dan meningkatkan pengetahuan remaja dan anak

    KONSELOR REMAJA

    Deskripsi Kegiatan

      Konselor remaja merupakan salah satu program kerja dari Badan Khusus Pemerhati Remaja dan Anak ISMKMI yang menjadi bentuk nyata perhatian dan kepedulian mahasiswa kesehatan masyarakat terhadap para remaja di Indonesia. Konseling remaja merupakan sebuah bentuk kepedulian kepada remaja untuk memberikan informasi dan edukasi mengenai kesehatan remaja pada umumnya maupun kesehatan reproduksi remaja. Penanggung jawab program Konselor Remaja yaitu Irma Putri Iksanti dan Haziq Hidayatussybyan. Konselor remaja juga memiliki akun sosial media yaitu @konselorremaja.ismkmi. Tujuan program Konselor Remaja dan Anak antara lain:

      1. Memberikan edukasi dan social support kepada remaja khususnya dalam isu kesehatan remaja.
      2. Mengoptimalkan SDM konseling remaja yaitu tim konselor ISMKMI.
      3. Mampu meningkatkan potensi diri remaja menjadi pribadi yang positif.
      4. Membantu remaja memecahkan permasalahan yang dialami.

      Penulis:

      1. Shinta Nur Azizah (Universitas Negeri Jember)
      2. Irma Putri Iksanti (Universitas Negeri Jember)

      Publikasi Kegiatan Badan Khusus Siaga Bencana (BKSB) ISMKMI 2024/2025 ISMKMI Siaga Bencana

      Gambar 1. ISMKMI Peduli Bencana Banjir Sukabumi Daerah Jawa Barat

      Pada tanggal 11 November 2024 – 16 November 2024 setelah dilakukannya pengkategorian bencana, tim sadar bencana BKSB ISMKMI daerah Jawa Barat melaksanakan arahan ISMKMI peduli bencana dengan melakukan penggalangan dana via online dengan tujuan untuk membantu korban bencana banjir bandang yang terjadi di Kota Sukabumi Jawa Barat, serta penerjunan relawan dilakukan oleh mahasiswa dalam penanggulangan bencana banjir di Kota Sukabumi, Jawa Barat.

      Gambar 2. Pembentukan TSB ISMKMI Daerah Jambi

      ISMKMI Daerah Jambi telah melaksanakan pembentukan Tim Sadar Bencana (TSB) pada November-Desember 2024 dengan jumlah anggota 15 orang.

      Pengkategorian Bencana

      Gambar 3. Pengkategorian Bencana Kebakaran ISMKMI Daerah Jakarta Raya

      BKSB ISMKMI melaksanakan pengkategorian bencana di setiap bencana yang terjadi di Indonesia yang kemudian dilaksanakan penggalangan dana untuk korban bencana.

      Penyuluhan Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

      Gambar 4. PRB Offline ISMKMI Daerah Jawa Barat

      Pada 6 Januari 2025, ISMKMI Daerah Jawa Barat melaksanakan arahan berupa kegiatan Penyuluhan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Desa Nusaherang, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan. Kegiatan ini dilakukan guna meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Nusaherang terkait upaya pengurangan risiko bencana.

      Gambar 5. PRB Online ISMKMI Daerah Jawa Barat

      Pada 7 Januari 2025, ISMKMI Daerah Jawa Barat mempublikasikan postingan poster yang mengangkat tema terkait mitigasi gempa bumi melalui Instagram @ismkmi_jawabarat. Postingan ini merupakan salah satu arahan program kerja dari ISMKMI Nasional, yakni Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Melalui program kerja ini, diharapkan masyarakat dapat menjangkau informasi terkait mitigasi bencana dengan mudah.

      Menjalin Mitra

      Gambar 6. Menjalin Mitra ISMKMI Daerah Jawa Barat

      ISMKMI Daerah Jawa Barat telah menjalin kerja sama dengan BPBD Kuningan dalam kegiatan-kegiatan kebencanaan meliputi pra, saat, dan pasca bencana misalnya penyuluhan pencegahan bencana, pelatihan, dan penurunan relawan ke lokasi bencana.

      Live Instagram

      Gambar 7. Live Instagram Bahas Bencana (BACA) #3 ISMKMI Nasional

      Pada tanggal 6 Oktober 2024, pukul 16.00-17.00 WIB, telah dilaksanakan salah satu program kerja Badan Khusus Siaga Bencana (BKSB) yaitu Bahas Bencana (BACA) #3 dengan judul “Megathrust Mengintai, Kita Harus Apa?” secara online melalui Live Instagram ISMKMI. Adapun narasumber pada BACA #3 kali ini adalah Pak Rudianto, ST., M.Sc. selaku Staf Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Pusat.

      Penulis:

      1. Hanifah Syaira (Universitas Jenderal Soedirman)
      2. Rika Meylina Pratiwi (Universitas Airlangga)
      3. Olifya Dinda Ayu Nurahmadani (Universitas Jenderal Soedirman)

      KEGIATAN IGTC DI UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA

      Maguwoharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta – Koordinator Daerah DIY Haniya Bella Dona Bersama pengurus harian ISMKMI DIY melakukan IGTC (ISMKMI Goes to Campus) ke Universitas Respati Yogyakarta pada Senin, 03 Febuari 2025.

      Acara ini dihadiri oleh Kaprodi, Sekretaris Prodi, bagian Kemahasiswaan Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Yogyakarta, Ketua HMKM periode 2024, Ketua HMKM periode 2025, anggota HMKM periode 2024, Koordinator Daerah DIY, dan pengurus harian ISMKMI.

      Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui masalah internal dan kendala yang ada terkait beberapa Arahan ISMKMI di Unriyo serta berdiskusi ringan terkait pemecahan masalah (problem solving).

      Penulis narasi: Dorotea Cantika Tena

      HMKM UNRIYO MELAKUKAN KEGIATAN ARAHAN ISMKMI YAITU DESA BINAAN DI KALURAHAN ARGOMULYO

      Kalurahan Argomulyo, Daerah Istimewa Yogyakarta – HMKM (Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat)  Universitas Respati Yogyakarta melaksanakan kegiatan Desa Binaan pada Sabtu, 04 Januari 2025. Desa Binaan merupakan salah satu Arahan ISMKMI untuk setiap institusi yang tergabung dalam ISMKMI. 

      HMKM melaksanakan Desa Binaan yang berkolaborasi dengan Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Yogyakarta dilahan PBL mahasiswa semester 7 (VII) Universitas Respati Yogyakarta. Kegiatan Desa Binaan yang dilakukan di Kalurahan Argomulyo adalah pemberian edukasi mengenai “Triad KRR” pada remaja. Para remaja diberikan pre-test dan post-test untuk melihat apakah ada perbedaan sebelum dan sesudah diberikan edukasi. 

      Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan para remaja sangat antusias mengikutinya rangkaian acaranya sampai selesai.

      Penulis narasi: Dorotea Cantika Tena

      PENANGANAN STUNTING PADA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

      Dalam mendorong percepatan penanggulangan stunting, Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan sejumlah program unggulan dan program inovatif yang memiliki intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif terhadap stunting. Program-program unggulan dan inovatif ini merupakan inisiatif Pemerintah provinsi NTB serta kerjasama dengan pihak lain dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah Provinsi NTB, khususnya melalui penanggulangan stunting. Program-program tersebut adalah sebagai berikut:

      a. Revitalisasi Posyandu

      Program revitalisasi posyandu adalah upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyandu melalui pembentukan Posyandu Keluarga. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain:

      • Pembentukan Posyandu Keluarga
      • Pelatihan Kader
      • Penyediaan Sarana dan Prasarana Posyandu
      • Pelayanan posyandu untuk semua sasaran dalam satu waktu, dan pengembangan program.

      Melalui revitalisasi posyandu akan terjadi perbaikan kelembagaan posyandu, peningkatan mutu kegiatan, peningkatan kehadiran sasaran dan pengembangan kegiatan. Kegiatan- kegiatan ini akan meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan stunting.

      b. Generasi Emas NTB (GEN)

      Program Generasi Emas NTB atau GEN adalah program peningkatan tumbuh kembang anak melalui perbaikan pola asuh dalam keluarga. Perbaikan pola asuh keluarga dilakukan dengan pendidikan prenatal atau parenting sehingga terbentuk Pasangan Ramah Anak atau PARANA. Sasaran program adalah siklus “dari remaja ke remaja”, tetapi untuk

      penanggulangan stunting, sasaran utama adalah sasaran 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan GEN antara lain:

      • Penetapan Lokus Kegiatan
      • Pelatihan Tenaga Pelaksana (Koordinator Desa dan Kader GEN)
      • Pemberdayaan Keluarga melalui Kelas Ibu PARANA dan Pendampingan PARANA
      • Pendataan Realtime (berbasis elektronik)
      • Pemberian Multiple Micro Nutrient (MMN)
      • Pengorganisasian di tingkat provinsi dengan dibentuknya sekretariat Program GEN.

      c. Aksi Bergizi

      Program Aksi Bergizi merupakan intervensi kepada para remaja di satuan pendidikan dengan memberikan suplemen gizi maupun perubahan perilaku sehat dan gizi, dalam rangka mencegah terjadinya kekurangan gizi dan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku para remaja tentang kesehatan reproduksi. Sasarannya adalah seluruh remaja puteri tingkat SMP/SMA/sederajat, termasuk MTS dan MA. Kegiatannya antara lain:

      • Sosialisasi dan Penandatanganan Komitmen untuk Pelaksanaan Program Aksi Bergizi di sekolah,
      • Pelatihan Guru Aksi Bergizi
      • Pendistribusian Modul Guru, Buku Siswa dan Alat Bantu Pembelajaran Aksi Bergizi
      • Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) setiap minggu untuk remaja putri
      • Sarapan Bersama di Sekolah
      • Pendidikan Gizi dan Kesehatan yang diberikan tiap minggu di sekolah
      • Serta intervensi terkait komunikasi untuk perubahan perilaku tentang makan sehat dan aktifitas fisik.

      Pembekalan gizi dan kesehatan dalam kegiatan Aksi Bergizi diharapkan menjadi bekal bagi remaja ketika memasuki fase perkawinan dan pengasuhan anak, sehingga mencegah anaknya menjadi stunting.

      d. Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT)

      Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) adalah sebuah strategi untuk mengatasi kurang gizi akut atau wasting. PGBT berfokus pada integrasi pengelolaan kurang gizi akut kedalam sistem kesehatan yang telah ada di semua tingkatan, ada 4 komponen PGBT yaitu:

      • Mobilisasi Masyarakat untuk Penemuan Dini Kasus dan Tindak Lanjut,
      • Layanan Rawat Jalan bagi Balita Gizi Buruk Tanpa Komplikasi Medis di Puskesmas atau Puskesmas Pembantu.
      • Layanan Rawat Inap bagi Balita dengan Komplikasi Medis di Rumah Sakit Umum (RSU) atau Puskesmas Rawat Inap.
      • Pemberian Makanan Tambahan (PMT), serta
      • Konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA).

      Sasaran kegiatan adalah anak usia 6 – 59 bulan yang menderita gizi buruk atau gizi kurang. Tujuan dari program PGBT adalah untuk mengurangi angka kematian anak dan meningkatkan pemulihan anak-anak penderita gizi buruk. PGBT adalah pendekatan yang dirancang untuk memaksimalkan cakupan dan pengobatan yang berhasil bagi anak-anak yang menderita gizi buruk dengan mengidentifikasi kasus gizi buruk sedini mungkin pada tahap awal sebelum komplikasi medis menjadi buruk dan meningkatkan akses mereka ke perawatan jalan berkualitas tinggi.

      e. Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA)

      Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) adalah upaya perbaikan pola asuh gizi kepada ibu hamil dan ibu menyusui, meliputi gizi ibu hamil, pemantauan pertumbuhan balita, inisiasi menyusui dini, pemberian ASI ekslusif, Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP- ASI) dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun lebih. Tujuannya meningkatkan status gizi, kesehatan, tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak di Provinsi NTB. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain:

      • Pelatihan Konseling PMBA pada Tenaga Kesehatan,
      • Pelatihan Konseling PMBA pada Kader Posyandu
      • Sosialisasi PMBA pada lintas sektor dan kepala desa
      • Workshop PMBA bagi para kader
      • Orientasi Pemantauan Pertumbuhan Balita
      • Pendampingan 1000 HPK melalui Kelas Ibu Hamil dan Kelas Gizi, serta
      • Pelaporan melalui Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM).

      Intervensi PMBA yang utama adalah pendidikan gizi untuk perbaikan pola asuh gizi dalam keluarga. Hal ini sangat relevan dengan upaya pencegahan stunting. Keluarga dengan pola asuh gizi yang baik akan terhindar dari kekurangan gizi pada masa kehamilan maupun ketika anak sudah lahir sehingga tercegah dari kejadian stunting.

      f. Jamban Keluarga

      Upaya peningkatan akses untuk menggunakan jamban keluarga melalui pendekatan pemicuan, dukungan kebijakan dan penyediaan sarana bagi masyarakat dalam rangka mencegah terjadinya stunting. Tujuannya adalah adanya perubahan perilaku masyarakat untuk buang air besar di jamban dalam rangka mencegah terjadinya penyakit berbasis lingkungan. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain pemicuan dan monitoring, dukungan kebijakan dalam bentuk regulasi dan penganggaran, dan pemberdayaan masyarakat dalam wadah wirausaha sanitasi.

      g. Air Bersih Untuk Semua

      Program air bersih untuk semua merupakan program perbaikan sistem penyediaan air minum yang diprakarsai, dipilih, dibangun dan dibiayai oleh masyarakat atau dengan bantuan pihak lain, dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakatkan berdasarkan kesepakatan kelompok pengguna air minum yang bersangkutan. Tujuan program antara lain menyediakan air minum yang kualitasnya aman dan sehat bagi penggunanya, menyediakan air secara berkelanjutan, mudah dan murah. Sasarannya adalah semua warga masyarakat yang membutuhkan penyediaan air minum. Kegiatannya difokuskan pada:

      • Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
      • Optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum, serta
      • Rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Minum

      Penyediaan air minum yang memenuhi syarat kesehatan serta dalam jumlah yang memadai akan menjamin kesehatan masyarakat, sehingga terhindar dari infeksi dan masalah gizi seperti stunting.

      h. Rumah Layak Huni

      Rumah Layak Huni adalah rumah yang memenuhi persyaratan keselamatan bangunan, dan berkecukupan minimum luas bangunan, serta kesehatan penghuni. Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketersedian rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Penyediaan rumah yang layak dan memenuhi syarat kesehatan merupakan upaya mendasar untuk menjamin kesehatan penduduk yang berkelanjutan dan pencegahan kasus-kasus kekurangan gizi dalam keluarga, seperti kasus stunting.

      i.  Pekarangan Pangan Lestari (P2L)

      Pekarangan Pangan Lestari atau P2L adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat yang secara bersama-sama mengusahakan lahan pekarangan sebagai sumber pangan secara berkelanjutan. Tujuan program ini adalah meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan untuk rumah tangga sesuai dengan kebutuhan pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, serta untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui penyediaan pangan yang berorientasi pasar. Sasaran program adalah kelompok penerima manfaat di kabupaten atau kota prioritas stunting atau daerah rentan rawan pangan atau daerah perbatasan. Melalui program P2L, akses keluarga terhadap pangan yang bergizi makin mudah sehingga keluarga tercegah dari kekurangan gizi termasuk stunting.

      j.  Pendewasaan Usia Perkawinan

      Program Pendewasaan Usia Perkawinan yang selanjutnya disingkat PUP adalah upaya meningkatkan usia perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain:

      • Pembuatan Buku Saku atau Pedoman atau Modul PUP,
      • Sosialisasi dan Pelatihan, serta
      • Advokasi penyusunan Peraturan Desa tentang Perkawinan.

      Pernikahan yang dilakukan pada saat yang tepat (usia minimal saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria) merupakan langkah kesiapan dari sisi fisik dan psikis untuk dapat melahirkan anak yang sehat dan cerdas yang memiliki tumbuh kembang optimal. Selain sepuluh program di atas, Provinsi NTB juga melakukan langkah penguatan intervensi spesifik melalui kegiatan Gerakan Gotong Royong Bhakti Stunting berupa pemberian asupan protein hewani (telur) secara terpadu oleh Pemerintah Provinsi NTB. Dalam rangka implementasi Gerakan Gotong Royong Bhakti Stunting, Pemerintah Provinsi NTB menugaskan seluruh perangkat daerahnya untuk melakukan Gerakan Bhakti Stunting dan berpartisipasi aktif melaksanakan pendampingan di setiap kecamatan sesuai Surat Keputusan Gubernur Nomor 050.13-226 Tahun 2023 tentang Pembentukan Tim Pendamping Kecamatan Program Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Gerakan Gotong Royong Bhakti Stunting sendiri adalah sebuah gerakan di mana seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkungan Pemerintah Provinsi NTB turun ke desa-desa melaksanakan pendampingan dan memberikan edukasi serta bantuan telur kepada masyarakat.

      Referensi:

      Peraturan Gubernur Nusa tenggara Barat Nomor 68 Tahun 2020 tentang Aksi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi.

      Rahmayanti, B. M., Thei, R. S. P., Saputri, D. A., & Ramdani, S. (2022). Upaya Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting Melalui Program Pendampingan Keluarga di Desa Pakuan Kecamatan Narmada. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 5(4), 175-180.

      Ramadhan, S., Wirayuda, L. A., Zulbiantoni, D., Meizora, B. C., Budiyanti, A. E., Septianingsih, I., … & Nurmayanti, S. (2024). Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui Konsep Rumah Pangan Lestari Untuk Budidaya Tanaman Sayur Di Posyandu Dua Dara, Desa Aik Dewa. Jurnal Pepadu, 5(1), 23-29.

      Sayuti, R. H., Anwar, K., & Hidayati, S. A. (2021). Pendampingan Pasangan Ramah Anak (PARANA) dalam Rangka Pembentukan Generasi Emas NTB (GEN) Di Provinsi NTB. Jurnal Abdi Insani, 8(2), 205-215.

      Sudarmi, St. Halimatussyaadiah. (2023). Penguatan Peran Bidan dan Kader dalam Upaya Pencegahan Stunting: Edukasi Pemberian Makan pada Bayi dan Balita. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 7(4), 3953-3963.

      https://dinkes.ntbprov.go.id/berita/kick-off-intervensi-serentak-pencegahan-stunting-upaya- masif-atasi-stunting-di-ntb/

      https://www.antaranews.com/berita/3675909/bkkbn-berikan-penghargaan-gerakan-gotong- royong-bhakti-stunting-ntb

      Penulis:

      Divisi Keilmuan Penelitian dan Pengembangan ISMKMI Nusa Tenggara Barat: Evi Mayani (Universitas Pendidikan Mandalika)

      Cegah Stunting, Kapan Mulainya?

      Stunting merupakan masalah pertumbuhan yang berdampak pada kecerdasan dan kesehatan anak di masa depan. “Pencegahan stunting, dimulai dari kapan?” Jawabannya sejak dini! Bahkan sebelum kehamilan pencegahan stunting harus dilakukan. Dari semua kalangan baik Itu remaja, ibu hamil, bayi, hingga balita. Setiap fase kehidupan mempunyai peran penting dalam pencegahan stunting. Yuk, simak langkah-langkah pencegahan sesuai usia agar si kecil tumbuh sehat dan cerdas!

      1. Pencegahan Stunting pada Anak Usia 0-59 bulan
      Pencegahan stunting pada anak usia 0 sampai 59 bulan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:
      a. ASI Ekslusif
      Memberikan ASI Eksklusif untuk bayi selama 6 bulan pertama sejak kelahiran merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah stunting. Hal ini karena nutrisi dalam ASI sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bayi dan balita di masa mendatang.
      b. MPASI yang Bergizi
      Makanan Pendamping ASI sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak, MPASI harus mengandung protein hewani untuk anak berusia 6 bulan.
      c. Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dan Pemberian Imunisasi
      Tumbuh kembang anak harus dipantau untuk mengantisipasi stunting. Segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Selain itu, memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayi juga dapat mencegah stunting.
      d. Memberikan Suplementasi
      Memberikan suplemen zinc, obat cacing, dan fortikasi zat besi pada makanan anak serta melakukan perlindungan pada penyakit seperti malaria dan diare.

      2. Pencegahan Stunting pada Ibu Hamil
      Stunting dapat mulai terjadi ketika janin masih dalam kandungan, disebabkan oleh asupan makanan ibu selama kehamilan yang kurang bergizi. Akibatnya, gizi yang didapat anak dalam kandungan tidak mencukupi. Kekurangan gizi akan menghambat pertumbuhan bayi dan bisa terus berlanjut setelah kelahiran. Sayangnya, efek stunting tidak dapat dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi. Oleh sebab itu sangat penting untuk melakukan upaya pencegahan stunting pada anak sejak ibu sedang hamil. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan ialah sebagai berikut:
      a. Penuhi Kebutuhan Nutrisi dan Konsumsi Suplemen Prenatal
      Salah satu hal yang penting dilakukan guna mencegah stunting pada anak ialah penuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil. Agar proses tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan optimal, anak perlu mendapatkan asupan nutrisi yang cukup di 1000 hari pertama kehidupannya, yakni sejak masih dalam kandungan ibu hingga usia sekitar 2 tahun. Di samping memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil melalui makanan yang bergizi, ibu hamil juga perlu mengonsumsi suplemen prenatal sesuai rekomendasi dokter. Beberapa zat dalam suplemen yang penting sebagai pencegahan stunting pada ibu hamil yaitu suplemen asam folat, kalsium, dan zat besi.
      b. Hindari Penyakit Infeksi
      Menghindari penyakit infeksi merupakan hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam mencegah stunting pada anak sejak kehamilan, karena beberapa penyakit infeksi pada ibu hamil dapat berdampak pada janin dalam kandungan.
      c. Berhenti Merokok dan Minum Alkohol
      Salah satu cara terbaik untuk mencegah stunting pada anak adalah berhenti merokok, minum alkohol, dan narkoba sejak sebelum kehamilan atau setidaknya sejak awal kehamilan. Berhenti merokok juga termasuk rokok elektrik (vape) dan menghindari asap rokok dari orang lain (perokok pasif).
      d. Istirahat yang Cukup
      Upaya pencegahan stunting pada ibu hamil berikutnya yang penting untuk Anda perhatikan adalah beristirahat yang cukup selama 7-9 jam. Posisi tidur saat hamil yang dianjurkan yaitu menyamping menghadap ke sebelah kiri. Hal ini berguna untuk menjaga peredaran darah.
      e. Rutin Beraktivitas Fisik
      Perbanyak istirahat bukan berarti ibu hamil hanya tiduran sepanjang hari. Sebaliknya, perlu tetap beraktivitas fisik sebagai upaya pencegahan stunting pada ibu hamil. Lakukan aktivitas fisik yang sederhana sesuai kemampuan dan petunjuk dokter, seperti berjalan kaki, senam, yoga, pilates, dan sebagainya.
      f. Rutin memeriksakan kehamilan
      Untuk mengantisipasi risiko kekurangan nutrisi saat hamil yang menjadi penyebab utama stunting, ibu hamil perlu mengecek kondisi kehamilan ke dokter secara rutin. Dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan janin berkembang dengan baik sesuai usia kehamilan dan akan memberikan saran terkait zat-zat nutrisi apa saja yang mungkin perlu ditambah asupannya.

      3. Pencegahan Stunting pada Ibu Menyusui
      Penyebab langsung terjadinya stunting pada balita adalah kurangnya asupan gizi saat 1000 hari pertama kehidupan anak. Oleh karena itu, pencegahan stunting perlu dimulai saat ibu hamil hingga fase menyusui yaitu dengan memperhatikan Asupan Nutrisi. Asupan nutrisi pada ibu menyusui harus optimal, hampir sama dengan ibu hamil akan tetapi menyesuaikan kebutuhan masing-masing. Ibu menyusui harus makan makanan yang sehat dan seimbang berupa nasi, sayur, lauk pauk, buah dan susu. Konsumsi makanan teratur dengan porsi cukup dan menambah sumber makanan yang kaya mineral, vitamin serta mengurangi konsumsi makanan beraroma menyengat.

      4. Pencegahan Stunting pada Remaja
      Upaya Pencegahan Stunting merupakan salah satu sasaran yang tercantum dalam Tujuan dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): “Memberantas kelaparan dan segala bentuk kekurangan gizi serta mewujudkan ketahanan pangan pada tahun 2030.” Target yang ditetapkan adalah mengurangi angka stunting hingga 40% di tahun 2025. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah telah mencanangkan stunting sebagai salah satu program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga, upaya penurunan prevalensi stunting pada remaja antara lain:
      a. Peningkatan Penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yakni Pola makan seimbang, tidak merokok, serta tidak mengonsumsi narkoba.
      b. Pendidikan Kesehatan Reproduksi.
      c. POS-R (Posyandu Remaja)
      Kegiatan Posyandu yang ditujukan kepada remaja ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai dampak pernikahan dini dan pencegahan stunting.
      d. Pendidikan Gizi “Isi Piringku”
      Penting bagi kaum muda untuk mengonsumsi makanan sehat, memenuhi kebutuhan gizi harian, dan mencegah gangguan pertumbuhan. Salah satu faktor yang mempengaruhi gizi remaja adalah pengetahuan mengenai gizi. Mengedukasi remaja terkait “Isi Piringku” dapat mendorong mereka untuk mengonsumsi makanan sehat agar dapat memenuhi kebutuhan gizi harian.
      e. Edukasi Pengenalan Stunting dan Pemberian Tablet Tambah Darah
      Edukasi melalui penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan tentang stunting. Pengetahuan yang baik akan berkontribusi pada sikap dalam melakukan pencegahan stunting. Tujuan edukasi kesehatan adalah terbentuknya perubahan perilaku kearah yang positif pada setiap orang dan juga pada kelompok masyarakat. Penyuluhan dilakukan untuk memberikan informasi tentang stunting yang terdiri atas gambaran secara umum tentang stunting, penyebab stunting, dampak stunting dan upaya pencegahan serta penanganan stunting. Pemberian tablet tambah darah kepada remaja juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia.

      5. Pencegahan Stunting pada Calon Pengantin
      Catin (Calon Pengantin) harus mengetahui apa itu stunting serta seperti apa gejala stunting pada anak. Gejala stunting yaitu perkembangan otak yang tidak optimal pada anak, gangguan pada pertumbuhan fisik dan metabolisme anak. Selain itu, stunting juga berisiko membuat anak lebih mudah sakit dan kurang produktif ketika dewasa nanti. Bila calon ibu atau calon pengantin perempuan kekurangan gizi, perkembangan janin selama kehamilan nantinya tidak dapat optimal serta perkembangan organ vital pun ikut terganggu. Oleh karena itu, perlunya persiapan agar calon pengantin dapat melakukan pencegahan stunting pada anak sejak dini, yakni dengan langkah-langkah berikut:
      a. Memeriksakan Status Gizi
      Status gizi calon pengantin, khususnya calon pengantin perempuan, sangat berpengaruh terhadap faktor risiko terjadinya stunting. Apabila ibu hamil terlalu kurus, dikhawatirkan nantinya tidak akan mampu memberikan nutrisi yang cukup untuk bayinya yang belum lahir. Oleh karena itu, perlunya calon pengantin memeriksakan status gizi sebelum menikah, agar ketika hamil nantinya stunting pada anak dapat dicegah. Untuk mengetahui status gizi calon pengantin, dapat dilakukan pengukuran sebagai berikut:
      – Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Indeks Massa Tubuh (IMT)
      Pengukuran LILA secara khusus dilakukan untuk mengetahui serta mencegah
      risiko Kurang Energi Kronik (KEK) atau kekurangan gizi berkepanjangan pada
      calon pengantin wanita.
      – Pengukuran Hb (Kadar Hemoglobin dalam Darah)
      Pengukuran kadar Hemoglobin dalam Darah dilakukan untuk mencegah terjadinya
      Anemia pada calon pengantin wanita.
      b. Menjaga Kesehatan Reproduksi
      Sebagai calon pengantin yang akan memulai hidup baru bersama, mengetahui dan merawat organ reproduksi dengan baik dapat membantu calon pengantin dan pasangannya mencegah penyakit menular seksual, meningkatkan kesehatan calon pengantin serta mengetahui adanya kelainan genetik yang dapat berpengaruh pada kesehatan calon anak ke depannya.
      c. Merencanakan kehamilan dengan baik, catin harus mempersiapkan kehamilan sebelum menikah dan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan pasangan agar kehamilan nantinya dapat berjalan dengan aman, lancar, serta tidak membahayakan ibu dan anak yang akan dilahirkan nantinya. Usia ideal untuk terjadinya kehamilan adalah antara 21 dan 35 tahun. Bagi ibu hamil, kehamilan 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, terlalu dekat) merupakan salah satu hal yang mutlak harus dihindari saat merencanakan kehamilan.
      d. Mempersiapkan 1000 Hari Pertama Kehidupan
      1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan tahun-tahun yang paling krusial bagi seorang anak. 1000 HPK merupakan masa emas pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai sejak terbentuknya janin dan berlanjut hingga tahun kedua kehidupan seorang anak. Sepanjang masa 1000 HPK, hal terpenting bagi ibu hamil adalah menjaga asupan gizi seimbang. Kemudian, jika pengantin wanita nantinya hamil dan menyusui, mereka perlu tetap menjaga asupan makanan yang seimbang agar dapat menghasilkan ASI yang berkualitas.

      6. Program Pencegahan Stunting di Provinsi Jawa Tengah
      Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten dan kota, terus menggencarkan berbagai program dan gerakan inovatif untuk percepatan penurunan stunting. Berbagai gerakan inovasi yang digencarkan Pemprov Jateng bersama pemerintah
      kabupaten/ kota, sangat efektif dalam upaya percepatan penurunan stunting. Berikut dua program yang dilakukan Pemprov Jateng untuk mencegah stunting.
      a. Program 5NG (Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng)
      Pemerintah Daerah Jawa Tengah meluncurkan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG) yang memiliki arti Jawa Tengah Bersatu Mengawasi Orang Hamil. Tujuan dari program ini adalah menyelamatkan ibu dan bayi dari stunting dengan kegiatan pendampingan ibu hamil sampai masa nifas. Program 5NG dilaksanakan dalam 4 fase yaitu fase sebelum hamil, fase kehamilan, fase persalinan, dan fase nifas. Ibu hamil dengan risiko tinggi menjadi salah satu prioritas pengamatan petugas kesehatan yang kondisi kesehatan dan konsumsi gizinya akan terus dipantau selama masa kehamilan sampai dengan setelah kelahiran.
      b. Program “Jo Kawin Bocah”
      Program “Jo Kawin Bocah” merupakan gerakan ajakan bagi masyarakat termasuk anak, khususnya di Jawa Tengah untuk mencegah terjadinya perkawinan usia anak dalam rangka pemenuhan hak anak di Jawa Tengah. Sasaran utama dalam Gerakan “Jo Kawin Bocah” adalah masyarakat yang masuk dalam kelompok rentan seperti keluarga miskin, pendidikan rendah, masyarakat pedesaan, kelompok remaja, pengasuhan tunggal/alternatif, dan lain sebagainya. Tujuan dilaksanakannya program ini yaitu agar terjadi peningkatan kesadaran masyarakat (termasuk anak) dan meningkatkan komitmen bersama pemangku kepentingan mengenai upaya pencegahan perkawinan anak.

      Mencegah stunting tidak dilakukan oleh satu orang saja, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan menjaga asupan gizi, pola hidup sehat, dan perawatan yang tepat di setiap tahap usia, kita bisa memastikan anak-anak tumbuh optimal dan siap menghadapi masa depan. Jadi, ayo cegah stunting dari sekarang! Karena setiap langkah kecil hari ini menentukan kesehatan generasi mendatang. 💪✨

      Referensi:

      1. Atasasih, H. (2022). Sosialisasi “Isi Piringku” pada Remaja Putri sebagai Upaya
        Pencegahan Stunting. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 116-121.
      2. Irawan, T., Zulfa, N. M., Hidayat, M. S., Amina, N. D., Putriyani, L., Bintang, R., … &
        Rachmawan, A. (2023). Pencegahan dan Penanggulangan Stunting di Kelurahan
        Podosugih Kota Pekalongan Melalui Pemberdayaan Masyarakat. Pena Abdimas: Jurnal
        Pengabdian Masyarakat, 4(1), 27-32.
      3. Kartika, P. R., Setiadi, D., Nurhalimah, Ningsih, I. W., Marsela, E., Adrianto, F.,
        Agustina, E. A., Piani, S. O., Wansyah, R. P., & Rahmadi, E. (2022). Edukasi Pencegahan
        Stunting pada Anak Usia 0-5 Tahun Melalui Program Posyandu di Desa Tungkal I,
        Kecamatan Pino Raya, Bengkulu Selatan. Tribute: Journal Of Community Services, 3(2),
        59-64.
      4. Sriwiyanti, S., Hartati, S., SKM, M., & Nazarena, Y. (2022). Panduan Sederhana
        Pencegahan Resiko Stunting Bagi Remaja Putri. Lembaga Omega Medika.
      5. https://hellosehat.com/kehamilan/kandungan/prenatal/mencegah-stunting-pada-anak-
        sejak-hamil/
      6. https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hpk-kunci-cegah-stunting
      7. https://infostunting.wonogirikab.go.id/berita/read/pencegahan-stunting-pada-calon-
        pengantin
      8. https://jatengprov.go.id/
      9. https://simpega.com/file/upload/ok/230524/MODUL%203%20Pendampingan%20keluarg
        a%20_032112959_119.pdf

      Penulis:
      Divisi Penelitian dan Pengembangan ISMKMI Jawa Tengah: Salma Rif’atun Nisa (Universitas Negeri Semarang), Leyla Fithriah (Universitas Muhammadiyah Semarang) , Alia Nurul Izza (Universitas Ngudi Waluyo).

      Tantangan dan Upaya Pencegahan Stunting di Manado, Sulawesi Utara

      Manado, Sulawesi Utara – Stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan di Kota Manado. Fenomena gagal tumbuh pada anak-anak ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif dan produktivitas masa depan generasi penerus ibukota Provinsi Sulawesi Utara.

      Prevalensi Stunting yang Masih Tinggi

      Data dari Dinas Kesehatan Sulawesi Utara menunjukkan bahwa Kota Manado mengalami tren penurunan angka stunting dalam lima tahun terakhir. Meskipun demikian, angka prevalensi stunting di kota ini masih perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2023, Manado mencatat prevalensi stunting sebesar 15,4 persen (Kemenkes RI, 2023). Angka ini memang lebih rendah dari rata-rata nasional yang berada di kisaran 21,6 persen, namun masih jauh dari target WHO yang menetapkan batas maksimal stunting sebesar 10 persen. “Meski tren stunting di Manado menurun, kita tidak boleh berpuas diri. Masih ada ribuan anak yang berisiko mengalami stunting dan membutuhkan perhatian kita bersama,” ungkap dr. Helena Tambuwun, Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado. (Tambuwun, 2023).

      Faktor Penyebab yang Kompleks

      Stunting di Manado tidak hadir dari satu faktor tunggal. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh Tim Riset Kesehatan Universitas Sam Ratulangi mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab stunting di kota ini:

      1. Faktor Sosial Ekonomi (Dinas Kesehatan Kota Manado, 2023).
      • 23% keluarga dengan balita masih hidup di bawah garis kemiskinan
      • Keterbatasan akses terhadap makanan bergizi
      • Tingkat pendidikan orangtua yang relatif rendah
      1. Faktor Kesehatan:
      • Cakupan ASI eksklusif baru mencapai 65%
      • 30% balita memiliki riwayat penyakit infeksi berulang
      • Layanan kesehatan yang belum optimal di beberapa wilayah
      1. Faktor Lingkungan:
      • 15% rumah tangga belum memiliki akses sanitasi layak
      • Kualitas air bersih yang masih menjadi masalah di beberapa kawasan
      • Kondisi pemukiman padat di beberapa kecamatan

      Program Intervensi yang Dilakukan

      Pemerintah Kota Manado tidak tinggal diam menghadapi permasalahan ini. Berbagai program intervensi telah dilakukan, di antaranya:

      1. Program Spesifik

      • Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil dan balita
      • Suplementasi tablet besi dan asam folat untuk ibu hamil
      • Program imunisasi menyeluruh
      • Pemantauan pertumbuhan balita secara rutin

      2. Program Sensitif

      • Pembangunan sarana air bersih dan sanitasi
      • Program Keluarga Harapan (PKH)
      • Edukasi gizi masyarakat
      • Pemberdayaan ekonomi keluarga

      “Kami mengalokasikan anggaran sebesar Rp 15 Milyar pada tahun 2023 untuk program penanggulangan stunting,” jelas Walikota Manado. “Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor dan didukung oleh berbagai pemangku kepentingan.” (BAPPEDA Kota Manado, 2023).

      Kisah Sukses dari Lapangan

      Di Kecamatan Malalayang, program intervensi stunting telah menunjukkan hasil positif. Keluarga Ny. Maria (35) adalah salah satu contoh keberhasilan program ini. Anaknya yang sempat terdeteksi stunting, kini menunjukkan peningkatan pertumbuhan signifikan setelah mengikuti program intervensi selama enam bulan. (Tim Riset Kesehatan UNSRAT, 2023). “Awalnya saya tidak paham tentang stunting. Setelah mendapat pendampingan dari kader kesehatan dan mengikuti program PMT, anak saya mengalami peningkatan berat badan dan tinggi badan yang signifikan,” tutur Ny. Maria.

      Tantangan dan Strategi ke Depan

      Meskipun berbagai program telah dilakukan, masih ada tantangan yang harus dihadapi:

      1. Koordinasi lintas sektor yang perlu ditingkatkan
      2. Keterbatasan sumber daya manusia terlatih
      3. Kesenjangan akses layanan kesehatan
      4. Perubahan perilaku masyarakat yang membutuhkan waktu

      Untuk menghadapi tantangan tersebut, Pemkot Manado telah menyusun strategi:

      1. Penguatan sistem surveilans gizi
      2. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan
      3. Optimalisasi peran Posyandu
      4. Pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal

      Harapan untuk Masa Depan

      Target Manado Bebas Stunting 2025 menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus bekerja keras. “Ini bukan hanya tentang angka dan statistik, tapi tentang masa depan anak-anak kita,” tegas Kepala Dinas Kesehatan. Dengan komitmen kuat dari pemerintah, dukungan masyarakat, dan kolaborasi berbagai pihak, Manado optimis dapat mencapai target penurunan stunting. Keberhasilan program ini akan menjadi kunci dalam membangun generasi Manado yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.

      SUMBER:

      BAPPEDA Kota Manado. (2023). Laporan Program Penanggulangan Stunting Kota Manado Tahun 2023. Manado: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Manado.

      Dinas Kesehatan Kota Manado. (2023). Profil Kesehatan Kota Manado 2023: Fokus Stunting. Manado: Dinas Kesehatan Kota Manado.

      Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

      Tambuwun, H. (2023). Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Manado 2023. Manado: Dinas Kesehatan Kota Manado.

      Tim Riset Kesehatan UNSRAT. (2023). Kajian Faktor Penyebab dan Dampak Stunting di Kota Manado. Manado: Universitas Sam Ratulangi.

      World Health Organization. (2023). Global Nutrition Targets 2025: Stunting Policy Brief. Geneva: WHO.

      Waspada Penyakit Demam Berdarah Dengue di Musim Hujan

      Malang, 31 Januari 2025 – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini biasanya meningkat saat musim hujan, ketika lingkungan lebih lembap dan genangan air menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Gejala DBD meliputi demam tinggi, nyeri pada otot dan sendi, sakit kepala, serta munculnya bintik merah pada kulit. Tanpa penanganan yang cepat, DBD bisa menimbulkan komplikasi serius hingga kematian.

      Berdasarkan data dari SKI tahun 2023, jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 877.531, dan pada tahun 2024, jumlah kasusnya meningkat. Menurut Kementerian Kesehatan, pada akhir Maret jumlahnya mencapai 53.131 kasus dengan 404 kematian, sementara pada awal April tercatat 60.296 kasus DBD dengan 455 kematian. Beberapa faktor yang memicu berkembangnya nyamuk Aedes aegypti antara lain genangan air yang tidak terkelola dengan baik, sampah yang menampung air hujan, serta kurangnya penggunaan kelambu. Perubahan iklim dan suhu yang meningkat juga mempercepat siklus hidup nyamuk penyebab DBD.

      Menurut Ayo Sehat Kementerian Kesehatan (2024), salah satu cara paling efektif untuk mencegah DBD adalah dengan menerapkan 3M. Langkah ini meliputi, menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi atau toren air, serta membersihkan dinding bak hingga bersih sangat penting, terutama saat musim hujan dan pancaroba, karena jentik dan telur nyamuk bisa bertahan di tempat kering hingga 6 bulan; menutup rapat tempat penampungan air dan mengubur barang bekas; mendaur ulang barang bekas untuk mengurangi potensi berkembangnya nyamuk.

      Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat dapat bekerja sama untuk melakukan upaya pencegahan seperti fogging, pembagian larvasida, serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya dan pencegahan DBD. Masyarakat yang terjangkit DBD disarankan untuk segera mendapatkan perawatan medis, beristirahat cukup, dan menjaga kecukupan cairan untuk mencegah dehidrasi. Jika gejala semakin parah, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Dengan kerjasama yang baik dari seluruh masyarakat, termasuk tenaga kesehatan dan pemerintah daerah, diharapkan jumlah kasus DBD dapat ditekan dan dampaknya dapat diminimalkan.

      Penulis: Amira Muradah

      Sejarah ISMKMI

      Gambar 1. Kegiatan Munas (Musyawarah Nasional) ISMKMI tahun 2024

      Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (Indonesian Public Health Student Executive Board Association) yang disingkat ISMKMI. Atas dasar kesadaran senat mahasiswa kesehatan masyarakat akan peran mahasiswa dan keresahan terhadap persoalan kesehatan masyarakat, maka dibentuklah wadah untuk bergerak bersama lembaga-lembaga eksekutif mahasiswa kesehatan masyarakat se-Indonesia yang saat ini dikenal dengan nama Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (Indonesian Public Health Student Executive Board Association). Awal didirikan ISMKMI pada tanggal 24 Desember 1991 dalam Musyawarah Nasional I di Ujung Pandang (Makassar) dengan 5 Institusi pendiri yaitu FKM Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Hasanuddin. Saat ini anggota ISMKMI berjumlah 140+ institusi yang tersebar di seluruh Indonesia. Institusi ISMKMI tersebut tersebar di 4 wilayah kerja ISMKMI, yaitu Wilayah 1 terdiri dari Pulau Sumatera, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. Wilayah 2 terdiri dari Pulau Kalimantan, Banten, D.K.I Jakarta dan Jawa Barat. Wilayah 3 terdiri dari Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Wilayah 4 terdiri dari Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Papua. Setiap wilayah kerja dikoordinir oleh pengurus regional atau daerah yang saat ini berjumlah 22+ regional/daerah dengan total sumber daya manusia di kepengurusan ISMKMI dan senat mahasiswa kesehatan masyarakat anggota ISMKMI mencapai lebih dari 10.000 mahasiswa.