
Stunting merupakan masalah pertumbuhan yang berdampak pada kecerdasan dan kesehatan anak di masa depan. “Pencegahan stunting, dimulai dari kapan?” Jawabannya sejak dini! Bahkan sebelum kehamilan pencegahan stunting harus dilakukan. Dari semua kalangan baik Itu remaja, ibu hamil, bayi, hingga balita. Setiap fase kehidupan mempunyai peran penting dalam pencegahan stunting. Yuk, simak langkah-langkah pencegahan sesuai usia agar si kecil tumbuh sehat dan cerdas!
1. Pencegahan Stunting pada Anak Usia 0-59 bulan
Pencegahan stunting pada anak usia 0 sampai 59 bulan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:
a. ASI Ekslusif
Memberikan ASI Eksklusif untuk bayi selama 6 bulan pertama sejak kelahiran merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah stunting. Hal ini karena nutrisi dalam ASI sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bayi dan balita di masa mendatang.
b. MPASI yang Bergizi
Makanan Pendamping ASI sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak, MPASI harus mengandung protein hewani untuk anak berusia 6 bulan.
c. Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dan Pemberian Imunisasi
Tumbuh kembang anak harus dipantau untuk mengantisipasi stunting. Segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Selain itu, memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayi juga dapat mencegah stunting.
d. Memberikan Suplementasi
Memberikan suplemen zinc, obat cacing, dan fortikasi zat besi pada makanan anak serta melakukan perlindungan pada penyakit seperti malaria dan diare.
2. Pencegahan Stunting pada Ibu Hamil
Stunting dapat mulai terjadi ketika janin masih dalam kandungan, disebabkan oleh asupan makanan ibu selama kehamilan yang kurang bergizi. Akibatnya, gizi yang didapat anak dalam kandungan tidak mencukupi. Kekurangan gizi akan menghambat pertumbuhan bayi dan bisa terus berlanjut setelah kelahiran. Sayangnya, efek stunting tidak dapat dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi. Oleh sebab itu sangat penting untuk melakukan upaya pencegahan stunting pada anak sejak ibu sedang hamil. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan ialah sebagai berikut:
a. Penuhi Kebutuhan Nutrisi dan Konsumsi Suplemen Prenatal
Salah satu hal yang penting dilakukan guna mencegah stunting pada anak ialah penuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil. Agar proses tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan optimal, anak perlu mendapatkan asupan nutrisi yang cukup di 1000 hari pertama kehidupannya, yakni sejak masih dalam kandungan ibu hingga usia sekitar 2 tahun. Di samping memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil melalui makanan yang bergizi, ibu hamil juga perlu mengonsumsi suplemen prenatal sesuai rekomendasi dokter. Beberapa zat dalam suplemen yang penting sebagai pencegahan stunting pada ibu hamil yaitu suplemen asam folat, kalsium, dan zat besi.
b. Hindari Penyakit Infeksi
Menghindari penyakit infeksi merupakan hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam mencegah stunting pada anak sejak kehamilan, karena beberapa penyakit infeksi pada ibu hamil dapat berdampak pada janin dalam kandungan.
c. Berhenti Merokok dan Minum Alkohol
Salah satu cara terbaik untuk mencegah stunting pada anak adalah berhenti merokok, minum alkohol, dan narkoba sejak sebelum kehamilan atau setidaknya sejak awal kehamilan. Berhenti merokok juga termasuk rokok elektrik (vape) dan menghindari asap rokok dari orang lain (perokok pasif).
d. Istirahat yang Cukup
Upaya pencegahan stunting pada ibu hamil berikutnya yang penting untuk Anda perhatikan adalah beristirahat yang cukup selama 7-9 jam. Posisi tidur saat hamil yang dianjurkan yaitu menyamping menghadap ke sebelah kiri. Hal ini berguna untuk menjaga peredaran darah.
e. Rutin Beraktivitas Fisik
Perbanyak istirahat bukan berarti ibu hamil hanya tiduran sepanjang hari. Sebaliknya, perlu tetap beraktivitas fisik sebagai upaya pencegahan stunting pada ibu hamil. Lakukan aktivitas fisik yang sederhana sesuai kemampuan dan petunjuk dokter, seperti berjalan kaki, senam, yoga, pilates, dan sebagainya.
f. Rutin memeriksakan kehamilan
Untuk mengantisipasi risiko kekurangan nutrisi saat hamil yang menjadi penyebab utama stunting, ibu hamil perlu mengecek kondisi kehamilan ke dokter secara rutin. Dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan janin berkembang dengan baik sesuai usia kehamilan dan akan memberikan saran terkait zat-zat nutrisi apa saja yang mungkin perlu ditambah asupannya.
3. Pencegahan Stunting pada Ibu Menyusui
Penyebab langsung terjadinya stunting pada balita adalah kurangnya asupan gizi saat 1000 hari pertama kehidupan anak. Oleh karena itu, pencegahan stunting perlu dimulai saat ibu hamil hingga fase menyusui yaitu dengan memperhatikan Asupan Nutrisi. Asupan nutrisi pada ibu menyusui harus optimal, hampir sama dengan ibu hamil akan tetapi menyesuaikan kebutuhan masing-masing. Ibu menyusui harus makan makanan yang sehat dan seimbang berupa nasi, sayur, lauk pauk, buah dan susu. Konsumsi makanan teratur dengan porsi cukup dan menambah sumber makanan yang kaya mineral, vitamin serta mengurangi konsumsi makanan beraroma menyengat.
4. Pencegahan Stunting pada Remaja
Upaya Pencegahan Stunting merupakan salah satu sasaran yang tercantum dalam Tujuan dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): “Memberantas kelaparan dan segala bentuk kekurangan gizi serta mewujudkan ketahanan pangan pada tahun 2030.” Target yang ditetapkan adalah mengurangi angka stunting hingga 40% di tahun 2025. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah telah mencanangkan stunting sebagai salah satu program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga, upaya penurunan prevalensi stunting pada remaja antara lain:
a. Peningkatan Penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yakni Pola makan seimbang, tidak merokok, serta tidak mengonsumsi narkoba.
b. Pendidikan Kesehatan Reproduksi.
c. POS-R (Posyandu Remaja)
Kegiatan Posyandu yang ditujukan kepada remaja ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai dampak pernikahan dini dan pencegahan stunting.
d. Pendidikan Gizi “Isi Piringku”
Penting bagi kaum muda untuk mengonsumsi makanan sehat, memenuhi kebutuhan gizi harian, dan mencegah gangguan pertumbuhan. Salah satu faktor yang mempengaruhi gizi remaja adalah pengetahuan mengenai gizi. Mengedukasi remaja terkait “Isi Piringku” dapat mendorong mereka untuk mengonsumsi makanan sehat agar dapat memenuhi kebutuhan gizi harian.
e. Edukasi Pengenalan Stunting dan Pemberian Tablet Tambah Darah
Edukasi melalui penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan tentang stunting. Pengetahuan yang baik akan berkontribusi pada sikap dalam melakukan pencegahan stunting. Tujuan edukasi kesehatan adalah terbentuknya perubahan perilaku kearah yang positif pada setiap orang dan juga pada kelompok masyarakat. Penyuluhan dilakukan untuk memberikan informasi tentang stunting yang terdiri atas gambaran secara umum tentang stunting, penyebab stunting, dampak stunting dan upaya pencegahan serta penanganan stunting. Pemberian tablet tambah darah kepada remaja juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia.
5. Pencegahan Stunting pada Calon Pengantin
Catin (Calon Pengantin) harus mengetahui apa itu stunting serta seperti apa gejala stunting pada anak. Gejala stunting yaitu perkembangan otak yang tidak optimal pada anak, gangguan pada pertumbuhan fisik dan metabolisme anak. Selain itu, stunting juga berisiko membuat anak lebih mudah sakit dan kurang produktif ketika dewasa nanti. Bila calon ibu atau calon pengantin perempuan kekurangan gizi, perkembangan janin selama kehamilan nantinya tidak dapat optimal serta perkembangan organ vital pun ikut terganggu. Oleh karena itu, perlunya persiapan agar calon pengantin dapat melakukan pencegahan stunting pada anak sejak dini, yakni dengan langkah-langkah berikut:
a. Memeriksakan Status Gizi
Status gizi calon pengantin, khususnya calon pengantin perempuan, sangat berpengaruh terhadap faktor risiko terjadinya stunting. Apabila ibu hamil terlalu kurus, dikhawatirkan nantinya tidak akan mampu memberikan nutrisi yang cukup untuk bayinya yang belum lahir. Oleh karena itu, perlunya calon pengantin memeriksakan status gizi sebelum menikah, agar ketika hamil nantinya stunting pada anak dapat dicegah. Untuk mengetahui status gizi calon pengantin, dapat dilakukan pengukuran sebagai berikut:
– Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Pengukuran LILA secara khusus dilakukan untuk mengetahui serta mencegah
risiko Kurang Energi Kronik (KEK) atau kekurangan gizi berkepanjangan pada
calon pengantin wanita.
– Pengukuran Hb (Kadar Hemoglobin dalam Darah)
Pengukuran kadar Hemoglobin dalam Darah dilakukan untuk mencegah terjadinya
Anemia pada calon pengantin wanita.
b. Menjaga Kesehatan Reproduksi
Sebagai calon pengantin yang akan memulai hidup baru bersama, mengetahui dan merawat organ reproduksi dengan baik dapat membantu calon pengantin dan pasangannya mencegah penyakit menular seksual, meningkatkan kesehatan calon pengantin serta mengetahui adanya kelainan genetik yang dapat berpengaruh pada kesehatan calon anak ke depannya.
c. Merencanakan kehamilan dengan baik, catin harus mempersiapkan kehamilan sebelum menikah dan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan pasangan agar kehamilan nantinya dapat berjalan dengan aman, lancar, serta tidak membahayakan ibu dan anak yang akan dilahirkan nantinya. Usia ideal untuk terjadinya kehamilan adalah antara 21 dan 35 tahun. Bagi ibu hamil, kehamilan 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, terlalu dekat) merupakan salah satu hal yang mutlak harus dihindari saat merencanakan kehamilan.
d. Mempersiapkan 1000 Hari Pertama Kehidupan
1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan tahun-tahun yang paling krusial bagi seorang anak. 1000 HPK merupakan masa emas pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai sejak terbentuknya janin dan berlanjut hingga tahun kedua kehidupan seorang anak. Sepanjang masa 1000 HPK, hal terpenting bagi ibu hamil adalah menjaga asupan gizi seimbang. Kemudian, jika pengantin wanita nantinya hamil dan menyusui, mereka perlu tetap menjaga asupan makanan yang seimbang agar dapat menghasilkan ASI yang berkualitas.
6. Program Pencegahan Stunting di Provinsi Jawa Tengah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten dan kota, terus menggencarkan berbagai program dan gerakan inovatif untuk percepatan penurunan stunting. Berbagai gerakan inovasi yang digencarkan Pemprov Jateng bersama pemerintah
kabupaten/ kota, sangat efektif dalam upaya percepatan penurunan stunting. Berikut dua program yang dilakukan Pemprov Jateng untuk mencegah stunting.
a. Program 5NG (Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng)
Pemerintah Daerah Jawa Tengah meluncurkan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG) yang memiliki arti Jawa Tengah Bersatu Mengawasi Orang Hamil. Tujuan dari program ini adalah menyelamatkan ibu dan bayi dari stunting dengan kegiatan pendampingan ibu hamil sampai masa nifas. Program 5NG dilaksanakan dalam 4 fase yaitu fase sebelum hamil, fase kehamilan, fase persalinan, dan fase nifas. Ibu hamil dengan risiko tinggi menjadi salah satu prioritas pengamatan petugas kesehatan yang kondisi kesehatan dan konsumsi gizinya akan terus dipantau selama masa kehamilan sampai dengan setelah kelahiran.
b. Program “Jo Kawin Bocah”
Program “Jo Kawin Bocah” merupakan gerakan ajakan bagi masyarakat termasuk anak, khususnya di Jawa Tengah untuk mencegah terjadinya perkawinan usia anak dalam rangka pemenuhan hak anak di Jawa Tengah. Sasaran utama dalam Gerakan “Jo Kawin Bocah” adalah masyarakat yang masuk dalam kelompok rentan seperti keluarga miskin, pendidikan rendah, masyarakat pedesaan, kelompok remaja, pengasuhan tunggal/alternatif, dan lain sebagainya. Tujuan dilaksanakannya program ini yaitu agar terjadi peningkatan kesadaran masyarakat (termasuk anak) dan meningkatkan komitmen bersama pemangku kepentingan mengenai upaya pencegahan perkawinan anak.
Mencegah stunting tidak dilakukan oleh satu orang saja, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan menjaga asupan gizi, pola hidup sehat, dan perawatan yang tepat di setiap tahap usia, kita bisa memastikan anak-anak tumbuh optimal dan siap menghadapi masa depan. Jadi, ayo cegah stunting dari sekarang! Karena setiap langkah kecil hari ini menentukan kesehatan generasi mendatang. 💪✨
Referensi:
- Atasasih, H. (2022). Sosialisasi “Isi Piringku” pada Remaja Putri sebagai Upaya
Pencegahan Stunting. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 116-121. - Irawan, T., Zulfa, N. M., Hidayat, M. S., Amina, N. D., Putriyani, L., Bintang, R., … &
Rachmawan, A. (2023). Pencegahan dan Penanggulangan Stunting di Kelurahan
Podosugih Kota Pekalongan Melalui Pemberdayaan Masyarakat. Pena Abdimas: Jurnal
Pengabdian Masyarakat, 4(1), 27-32. - Kartika, P. R., Setiadi, D., Nurhalimah, Ningsih, I. W., Marsela, E., Adrianto, F.,
Agustina, E. A., Piani, S. O., Wansyah, R. P., & Rahmadi, E. (2022). Edukasi Pencegahan
Stunting pada Anak Usia 0-5 Tahun Melalui Program Posyandu di Desa Tungkal I,
Kecamatan Pino Raya, Bengkulu Selatan. Tribute: Journal Of Community Services, 3(2),
59-64. - Sriwiyanti, S., Hartati, S., SKM, M., & Nazarena, Y. (2022). Panduan Sederhana
Pencegahan Resiko Stunting Bagi Remaja Putri. Lembaga Omega Medika. - https://hellosehat.com/kehamilan/kandungan/prenatal/mencegah-stunting-pada-anak-
sejak-hamil/ - https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hpk-kunci-cegah-stunting
- https://infostunting.wonogirikab.go.id/berita/read/pencegahan-stunting-pada-calon-
pengantin - https://jatengprov.go.id/
- https://simpega.com/file/upload/ok/230524/MODUL%203%20Pendampingan%20keluarg
a%20_032112959_119.pdf
Penulis:
Divisi Penelitian dan Pengembangan ISMKMI Jawa Tengah: Salma Rif’atun Nisa (Universitas Negeri Semarang), Leyla Fithriah (Universitas Muhammadiyah Semarang) , Alia Nurul Izza (Universitas Ngudi Waluyo).